Belajar dari Teddy P Rachmat

Minggu lalu saya menghadiri acara Leadership Talk yang diselenggarakan oleh QB Leadership Center yang dipimpin oleh Ibu Betti Alisjahbana. Acara ini menghadirkan seorang CEO dan Entrepreneur hebat yang sudah malang melintang didunia korporasi dan entrepreneurship di Indonesia, the living legend Teddy P Rachmat.

Beliau berbagi ilmu dan pengalamannya sebagai profesional sehingga menduduki posisi puncak CEO Astra Group, perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di Indonesia, mendekati Rp. 400 triliun.

Beliau juga berbagi inspirasi pengalamannya sebagai entrepreneur membidani dan membesarkan perusahaan-perusahaan hebat di Indonesia spt: Adira Finance, Adaro dan Triputra Group.

Saat ini group yang dipimpinnya menjadi jawara di sektor-sektor perkebunan sawit, tambang batubara, financing dan yang terakhir rental sarana transportasi

Yang masih sangat membekas dihati saya, adalah tiga ‘Key Fundamental Business Strategy’ yang harus dipegang kalau seorang pengusaha ingin sukses :

1. Fahami Trend
Sebelum memutuskan akan masuk ke bisnis apa, kita harus terlebih dahulu memahami trend dunia yang sedang dan akan berlangsung. ‘Cari yang anginnya sedang kencang berhembus’, begitu nasehat Teddy.
Dengan memahami trend kita diuntungkan dengan tersedianya pasar utk produk atau jasa kita secara massive. Konsumen yang mencari kita dan bisa dikembangkan ke skala yang lebih besar serta berdimensi jangka panjang.

Nasehat sederhana ini ternyata sama persis dengan nasehat yang pernah saya dengar dari Chairul Tanjung, pemilik CT Corp, ” Fahami Trend, Beli masa depan dengan harga sekarang”, ternyata nasehat orang-orang hebat pada prinsipnya sama.

2. Ciptakan Keunikan
Memahami trend adalah salah satu aspek, setelah itu kita mesti bisa menciptakan keunikan sehingga produk atau jasa kita berbeda dari yang lain. Dan sudah pasti akan dicari oleh customer.

Beliau mencontohkan perusahaan yang baru dibesutnya Assa Transportation Service, penyedia jasa sewa alat-alat transportasi yang saat ini sudah memiliki ribuan unit mobil.

Banyak penyedia jasa transportasi yang sudah ada di Indonesia. Mereka hadir duluan dan sudah bersentuhan dengan konsumen cukup lama. Untuk merebut pasar dan menciptakan profit, P Teddy mengidentifikasi dua keunikan utama di bisnis ini yang harus difokuskan dan dikerjakan beyond expectation, yaitu; layanan pelanggan yang super dan maintenance kendaraan yang excellence. Fokus di dua hal itu saja mampu membuat Assa leading dibidang ini

3. Optimalkan Leverage
Setelah kedua hal dipenuhi dan beroperasi secara excellence di skala kecil, kita harus segera geber, ekspansi secepat mungkin ke seluruh pasar, di leverage, perbesar sehingga skala ekonomi tercapai dan secara natural membentengi dari masuknya pesaing

Leverage dilakukan pada level operasi maupun pendanaan. Leverage pendanaan bisa melalui perbankan, terbitkan bond atau IPO di pasar modal.

Satu wanti-wanti beliau, sebelum bisnis jalan, terbukti bagus dan sustain, jangan coba-coba leverage keuangan di bank atau IPO. Kalau gagal bisa-bisa malah merusak reputasi kita. Padahal reputasi adalah modal nomor satu yang harus kita utamakan dalam bisnis apapun

Menyelami filosofi nasehat kedua dan ketiga, saya jadi ingat nasehat serupa yang pernah diajarkan Pak Tung Desem Waringan, yaitu; nilai tambah dan faktor kali.

Untuk sukses dalam bisnis, kita harus mampu mencari, menggali dan menawarkan nilai tambah dari bisnis yang kita tekuni. Kalau sudah ketemu, terbukti dan sustain, baru kita besarkan dengan faktor kali atau leverage, bisa dengan buka cabang diseluruh pasar kita, kita franchise kan atau go publik sekalian.

Nah bagaimana dengan Anda ? Sudahkah anda memahami trend sekarang dan yang akan datang ? Keunikan apa yang ingin anda tawarkan dan bagaimana cara me-leverage-nya ?

2 thoughts on “Belajar dari Teddy P Rachmat

  1. setuju dengan kalimat “Satu wanti-wanti beliau, sebelum bisnis jalan, terbukti bagus dan sustain, jangan coba-coba leverage keuangan di bank atau IPO”
    hampir sebagian besar klien kami yang sukses jadi pemain properti bukan karena pinjaman dari bank.
    Mereka mempunyai tabungan, daripada hanya “tenggelam” di Bank, mereka masuk ke industri properti. Jika dana nya kurang, mereka cari kongsi dulu baru berangkat ke Bank…
    Wallohua’lam…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: