Budaya Saling Sandera

Jumat lalu ribuan warga Jakarta dan Bekasi serta warga Bandung yang mencari makan di Jakarta merasakan bagaimana rasanya berjam-jam terjebak kemacetan di jalan tol. Ribuan sumpah serapah dan keluhan dilontarkan melalui tweeter, facebook dan status BB mereka.

Kemacetan terjadi karena ribuan buruh dikawasan industri Jababeka dan Cikarang, memblok jalan tol, berdemo menolak putusan pengadilan yang memenangkan APINDO terkait upah minimum regional.

Buruh ingin upah regional tetap seperti putusan kepala daerah ditingkat Rp. 1.4 – 1.8 juta/bulan. Sementara Asosiasi Pengusaha menganggap upah itu terlalu tinggi dan mengurangi daya saing mereka terhadap serbuan produk-produk China yg lebih murah

Yang kemudian terjadi adalah saling sandera. Buruh mogok kerja dan melakukan sweeping atas rekan-rekannya yg masih bekerja. Pengusaha tetap hanya mau membayar dengan upah minimum sebelumnya….dan deadlock pun terjadi.

Masyarakat umum dirugikan, negara dirugikan, buruh maupun pengusaha juga dirugikan…semua rugi !

Masih hangat juga dalam ingatan keinginan pemerintah untuk membatasi subsidi BBM, mewajibkan mobil pribadi (baca masyarakat mampu) untuk membeli BBM non subsidi dan mengurangi beban subsidi BBM di APBN sehingga keuangan negara bisa leluasa investasi di pendidikan, kesehatan ataupun infrastruktur

Kebijakan baru dalam tahap kajian, masih mencari opsi-opsi yang cocok, ancaman-ancaman sudah dilontarkan baik oleh kalangan politisi, pengusaha angkutan umum maupun masyarakat pengguna

Politisi menakut-nakuti terjadinya revolusi sosial karena kekisruhan penerapan pembatasan BBM

Pengusaha angkutan mengancam menaikkan tarif angkutan. Bahkan PT Kereta Api Indonesia yang notabene BUMN mengerahkan ribuan karyawannya utk demo agar tetap bisa memakai BBM subsidi dalam operasionalnya

Masyarakat mengancam melakukan tindakan anarkis apabila SPBU tidak mampu menyediakan pertamax sesuai kebutuhan

Macam-macamlah semua ancamannya sehingga pemerintah tersandera, maju mundur dan tidak berani mengambil kebijakan yang sebenarnya baik untuk perekonomian

Belum habis kebijakan BBM subsidi, sekarang pengusaha sektor keramik, kaca dan lainnya mulai pasang kuda-kuda menanggapi rencana kenaikan harga listrik. Mereka mengancam untuk mengimpor saja dari Cina kalo listrik naik..

Listrik merupakan biaya produksi yang dominan buat mereka, kalo naik menjadi tidak kompetitif, lebih murah impor langsung dari Cina. Ujung-ujungnya bisa terjadi PHK besar-besaran di sektor industri ini

Padahal selama ini PLN menjual listrik dibawah harga produksinya, negara memberi subsidi ke pelanggan rumah tangga maupun industri, sampai kapan akan berlangsung dan PLN bisa untung ?

Budaya sandera-menyandera ini sudah makin akut dlm kehidupan bernegara kita. Sampai kapan akan berlangsung ? Kapan kita bisa memanfaatkan status ‘investment grade’ untuk mendongkrak laju perekonomian kita ?

Saatnya bersatu, saling memahami kepentingan masing-masing dan selalu meletakan kepentingan umum diatas kepentingan individu kita.

Indonesia bangsa yang besar, saya yakin pasti BISA ! Yes We Can !!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: