Terimakasih Ibu…

Kasih Ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia…

Begitu bunyi sebuah lagu anak-anak yang sangat populer di masyarakat. Lagu itu merupakan ekspresi ungkapan rasa terimakasih kita pada Ibu yang telah bersusah payah mengandung selama sembilan bulan, bertaruh nyawa melahirkan kita dan setia membesarkan dengan penuh cinta kasih

Hari ini, 22 Desember, seluruh penjuru dunia merayakan hari Ibu. Penghargaan terhadap peran Ibu dalam kehidupan umat manusia. Saya yakin kebudayaan, kepercayaan dan agama apapun pasti menempatkan Ibu dalam posisi yang mulia dan terhormat.

Dalam Islam, Rosul menempatkan Ibu dalam posisi yang sangat mulai melalui hadistnya, ” Surga ditelapak kaki Ibu “. Bahkan ketika Beliau ditanya oleh seorang sahabat. Siapakah manusia dimuka bumi yang harus kita dahulukan dan turuti ucapannya, Rosul menjawab, ” Ibumu…, Ibumu…, Ibumu….kemudian Ayahmu.

Saya mengenang Ibu saya sebagai sosok yang bersahaja dan penuh kesabaran. Membesarkan sembilan anak dari seorang ayah yang keras dan lebih banyak mendedikasikan waktunya untuk warga NU dan partai th 80-90 an. Disaat-saat sulit dimana bisnis ayah lagi sepi, Ibu masih sempat-sempatnya tampil kedepan membantu mencari nafkah dengan membuka toko kebutuhan sehari-hari. Saya masih ingat, bagaimana saat SD sering kebagian peran menemani Ibu jaga toko dan melayani pembeli, kulakan ke pasar beli kecap dan tepung. Juga ngitung uang hasil jualan pada malam hari saat toko tutup…

Setiap hari kami dibuatkan sarapan dan yang tak pernah lupa segelas kopi susu sebelum berangkat sekolah. Karena kita bersembilan, Ibu setiap pagi membuat lima gelas kopi susu, satu gelas untuk dua orang. Kadang saya ataupun saudara yang lain berbuat curang, satu orang minum segelas penuh dan tidak menyisakan buat lainnya sehingga timbul keributan anak-anak. Ibupun dengan sabar membuatkan lagi gantinya…

Kini kami semua sudah besar dan berkeluarga. Dan hampir semuanya hidup di Jakarta sehingga tidak ada satupun yang menemani Ibu di Pekalongan. Ibu tetap sabar, mendoakan kami semua dan rajin update perkembangan sehari-hari yang terjadi di kampung. Ibu tidak betah tinggal di Jakarta, biar sendiri lebih enak tinggal di kampung. Bisa setiap hari ke musholla deket rumah, ikut pengajian dan silaturahmi dengan tetangga-tetangga yang hampir setiap hari datang ke rumah kami dengan berbagai problematika hidup mereka…

Kadang saya malu belum bisa berbuat banyak untuk Ibu, belum bisa meluangkan banyak waktu menemani Ibu dan masih terbelit kesibukan di metropolitan yang seolah tiada habisnya.

Insya Allah di hari yang mulia ini, di penghujung tahun 2011 saya berjanji untuk lebih banyak meluangkan waktu, berkunjung ke Pekalongan dan berusaha membahagiakan beliau lebih baik lagi…

Terimakasih Ibu, atas semua perjuangan dan kasih sayangmu selama ini kepada kami semua, anak-anakmu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: