Fenomena D’Cost, Mutu Bintang Lima Harga Kaki Lima

Mutu Bintang Lima Harga Kaki Lima, begitulah kira-kira semboyan yang diusung restoran cepat saji D’Cost. Restoran yang banyak menyajikan masakan seafood ini menjadi fenomena dan perbincangan kalangan penikmat kuliner menengah bawah di Jakarta.

Digawangi oleh David V Marsudi dan Hari Setiadi yang sejatinya adalah pengusaha properti, D’Cost menawarkan harga murah dan terjangkau buat konsumen, sementara mutu makanan tetap terjamin layaknya resto-resto ngetop lain. Kebersihan dan kenyamanan restoran juga tidak kalah dengan restoran di mal-mal menengah atas.

Tidak jarang kita melihat pengunjung rela antri berjam-jam untuk mendapat kursi di D’Cost. Di Bintaro, saat akhir minggu, saya sering melihat antrian mengular ketika jam makan siang tiba. Hal ini tak lepas dari promo-promo kreatif yg sering dilakukan D’Cost, menabrak pakem yg ada dan out of the box banget.

‘Silakan bayar terserah anda’, setelah kenyang makan pengunjung cukup menunjukan kartu kredit dan membayar seikhlasnya, rp. 5,000, rp 10,000 atau lainnya, berapa banyakpun yg mereka makan. Promo ini hanya utk mengidentifikasi pengunjung potensial saja.

‘Diskon sesuai usia’, ini promo memberi diskon sesuai usia pengunjung, diskon 50% kalo anda usia 50. Bahkan saat ada rombongan keluarga yg membawa neneknya berusia 103 tahun, D’Cost menggratiskan mereka semua, walaupun sang nenek cuman duduk dipojokan sambil makan tahu doang…

Apakah D’Cost tidak rugi ? Tentunya manajemen sdh memiliki perhitungan yg matang. Faktanya sejak didirikan tahun 2006 di Kemang, jumlah resto D’Cost sdh menggurita menjadi 50 buah dan menempati lokasi-lokasi strategis di Jakarta. Dan akan terus melebarkan sayap ke kota-kota besar di Indonesia.

“Tujuan kami adalah membikin semua orang yg datang ke D’Cost gembira, kami sediakan fasilitas restoran bagi tamu yang mau menikmati masakan rumah dg harga murah di D’Cost” begitu kata David sang pemilik.

Menilik tujuan diatas, saya jadi ingat Tony Hsieh, sang pendiri Zappos, retail online store sepatu dengan omset triliunan di Amerika. Filosofi bisnis Tony adalah ‘delivering happiness’, bagaimana memberi kebahagiaan kepada semua customer pembeli sepatu di Zappos.

Penguasaan atas properti-properti strategis yg ditempati D’Cost juga mengingatkan saya akan strategi Ray Kroc sang pendiri McDonald. Ray Kroc pernah berujar ‘sejatinya bisnis utama McDonald bukanlah jualan hamburger, tetapi penguasaan atas properti-properti ditempat-tempat strategis diseluruh dunia’.

Apapun bisnis dan tujuan D’Cost, yang jelas kehadirannya sdh membuat bahagia penikmat kuliner menengah bawah Jakarta. Maju terus P David dan P Hari, kami terus memantau dan belajar dari strategi-strategi bisnis Anda….

(Sebagian disarikan dari suplemen Kompas tgl 28 Nov 2011 : Investasi 2012)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: